“Terwujudnya Sumber Daya Manusia Yang Cerdas, Kompetitif, Terampil dan Berkarakteristik"

PENDIDIKAN ENDE BERGERAK FLUKTUATIF

Written by  Published in Berita Jumat, 04 September 2015 06:56
Rate this item
(0 votes)

Perkembangan pendidikan di wilayah Kabupaten Ende bergerak fluktuatif dalam  beberapa dekade terakhir. Pada tahun 1970-1980 sebagai masyarakat Kabupaten Ende pastinya berbangga, karena pada rentang waktu tersebut Kabupaten Ende dikenal sebagai kota pelajar dan menjadi barometer pendidikan untuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Bupati Marselinus Y. W. Petu mengatakan ini dihadapan para kepala sekolah dasar dan UPTD se-Kabupaten Ende di Aula BBK Ende, Jln.Wirajaya (Jumat,26/5/15).


Bupati Marsel Petu mengakui, walaupun pendidikanKkabupaten Ende di era 1970-an mengalami masa kejayaannya namun mulai pertengahan tahun 1990-an pendidikan di Kabupaten Ende mulai mengalami kemerosotan. Kondisi ini diperparah pada tahun 2010-2012 yang merupakan masa kelam bagi dunia pendidikan di Kabupaten Ende, dimana hasil UN SMA/SMK dan SMP berada pada peringkat terakhir dari 21 Kabupaten di Propinsi NTT. Namun selama periode 2009-2014 pendidikan di Ende mulai menunjukkan peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan hasil ujian sekolah untuk SD/MI/SDLB berada pada peringkat 6 sampai dengan 8 di tingkat propinsi NTT.

Perkembnagan hasil pendidikan di Kabupaten Ende ini kata bupati, disebabkan oleh kondisi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki seperti masih terbatasnya sumber daya baik itu guru maupun sarana/prasarana pendidikan. Menyikapi kondisi ini demikian Marsel, pemerintah Kabupaten Ende selalu  berupaya memperbaiki pengelolaan pendidikan dalam berbagi aspek sehingga dapat menghasilkan manusia yang cerdas, terampil dan kompetitif.

Ia menambahkan, walaupun Kabupaten Ende pernah mengalami kemorosatan hasil pendidikan, namun setidaknya Kabupaten Ende harus berbangga karena Kabupaten Ende tidak pernah melaksanakan UN/US dengan cara-cara yang tidak jujur. Hal ini terbukti dengan masuknya kabupaten Ende sebagai salah satu penyelenggara UN terjujur di Indonesia. Selain itu menurutnya lagi, hanya Kabupaten Ende yang menerapkan perhitungan kelulusan di tingkat kabupaten dengan standar yang disiapkan oleh masing-masing SD/MI. Cara ini tentunya untuk meminimalisir terjadinya manipulasi standar kelulusan dalam penentuan kelulusan siswa. “Walau dunia pendidikan kita belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, tapi setidaknya kita harus berbangga karena kita tidak pernah melaksanakan UN/US dengan cara-cara yang tidak jujur, karena seperti yang saya sampaikan awal yang kita kejar adalah kualitas siswa bukan nilai ujian, ”ujarnya. (Humas Ende/Helen Mei (eln))

Read 92887 times Last modified on Sabtu, 12 September 2015 10:42